Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) harus gigit jari setelah FIFA menjatuhkan denda ratusan juta rupiah. Sanksi ini bukan sembarangan, melainkan terkait pelanggaran serius: rasisme dan diskriminasi. Namun, bagi kubu Palestina, hukuman itu dinilai masih sangat ringan dan jauh dari harapan mereka.
FIFA memerintahkan IFA membayar denda sebesar 150.000 franc Swiss, atau sekitar 2,7 miliar rupiah, pekan lalu. Sanksi ini muncul setelah laporan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) yang menemukan "banyak pelanggaran" terhadap aturan anti-diskriminasi yang seharusnya dipatuhi IFA. Salah satu poin utama adalah kegagalan IFA menindak tegas klub Beitar Jerusalem, yang terkenal dengan perilaku rasisnya.
Menanggapi keputusan ini, Ketua PFA, Jibril Rajoub, tidak main-main. Ia langsung mendesak agar IFA bukan cuma didenda, melainkan dibekukan sepenuhnya dari semua lembaga sepak bola internasional. Menurut Rajoub, denda FIFA "masih jauh dari batas minimum yang diperlukan." Rajoub menegaskan bahwa sifat rasis IFA, dugaan keterlibatan kriminal beberapa pejabat olahraga Israel, dan yang paling penting, keberadaan klub-klub dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang menjadi bagian dari federasi mereka, adalah alasan kuat untuk sanksi yang lebih berat.
PFA juga mengaitkan isu ini dengan tragedi kemanusiaan di Gaza. Rajoub mengklaim sejak konflik pecah Oktober 2023 lalu, 1.007 atlet dan pelatih Palestina tewas, sementara 265 fasilitas olahraga rusak parah. Ia menuduh beberapa tokoh olahraga Israel turut serta atau bahkan terang-terangan mendukung kejadian tersebut. Perlu dicatat, angka korban jiwa dan kerusakan fasilitas ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh pihak lain di tengah sulitnya akses ke Gaza.
Permasalahan klub-klub dari permukiman Israel di Tepi Barat ini sebenarnya sudah lama jadi polemik. PBB berkali-kali menyatakan permukiman tersebut ilegal di bawah hukum internasional. Ironisnya, FIFA sendiri pernah menyelidiki isu ini di masa lalu, namun memutuskan tidak mengambil tindakan apapun terhadap IFA.
Kasus ini menunjukkan betapa rumitnya konflik politik antara Israel dan Palestina yang kini merambah ke ranah olahraga. Sanksi dari FIFA, meski dinilai kurang oleh PFA, setidaknya menjadi penanda bahwa badan sepak bola global ini mencoba menegakkan nilai-nilai anti-diskriminasi. Namun, desakan Palestina untuk sanksi yang lebih keras menempatkan FIFA dalam posisi sulit. Mereka harus mencari keseimbangan antara menegakkan aturan olahraga, menghadapi tekanan politik, dan menjaga integritasnya di mata dunia sebagai organisasi yang independen dan adil. Ini bukan hanya soal skor di lapangan, tapi juga soal keadilan dan hak asasi manusia.