Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini bisa mereproduksi motif kain tradisional India tanpa melibatkan pengrajin aslinya. Fenomena ini bermula dari temuan Bitupan Deka, seorang dosen teknologi komputer di Universitas MIT Shillong, yang menyadari bahwa motif gamusa—selendang tradisional Meghalaya—di pasaran sangat monoton dan berulang.
Deka kemudian mengembangkan sistem AI yang mampu menciptakan desain motif baru tanpa batas untuk kain tradisional. Ia berdalih tujuannya bukan menggantikan desainer tradisional, melainkan memberi mereka alat untuk menciptakan motif modern dengan lebih mudah. Sistem serupa juga dikembangkan untuk kain Sanganeri asal Rajasthan melalui Rekh Sanganeri Dataset, yang mendokumentasikan detail cetakan tangan hingga ketidaksempurnaannya.
Namun, di balik klaim pelestarian budaya, muncul paradoks: alat yang dibuat untuk menjaga warisan justru memudahkan reproduksi digital tanpa campur tangan pengrajin. Para pengrajin tradisional seperti Dinesh Chhipa dari komunitas Bagru mengkhawatirkan masa depan keahlian turun-temurun mereka. Pasalnya, motif-motif yang sarat makna budaya dan sejarah migrasi ini kini bisa diproduksi massal oleh mesin, mengancam keberlanjutan ekonomi dan eksistensi para perajin lokal.