Gelombang unjuk rasa serentak melanda sejumlah negara Eropa pada musim gugur ini. Prancis menjadi salah satu titik panas dengan aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan ruang kelas yang penuh sesak dan kekurangan tenaga pengajar, yang kemudian meluas menjadi protes publik yang lebih besar.
Unjuk rasa serupa juga meletus di Belgia, Italia, Portugal, Spanyol, dan Albania. Meski keluhan tiap negara berbedaāmulai dari harga rumah yang tak terjangkau, upah rendah, kenaikan harga bahan bakar, kualitas pendidikan, hingga tuntutan akuntabilitas politikābenang merahnya sama: masyarakat merasa membayar lebih mahal namun mendapat layanan yang lebih sedikit, dan semakin sulit hidup layak meski sudah bekerja.
Di sisi lain, pemerintah berada di posisi sulit. Mereka menghadapi tuntutan rakyat untuk segera memberikan bantuan, namun harus bergulat dengan beban utang tinggi, biaya pinjaman yang meningkat, dan di beberapa negara, tekanan menjelang pemilu. Situasi ini berpotensi memicu ketidakstabilan politik dan sosial jika tidak direspons dengan kebijakan yang tepat sasaran.