Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta sekutunya, Israel, dilaporkan memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Konflik kini merambah ke ranah pendidikan, di mana Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dikabarkan melancarkan ancaman terhadap sejumlah universitas Amerika di negara-negara tetangga.
Langkah ini merupakan respons balasan Iran setelah dua universitas riset mereka dilaporkan diserang pada akhir pekan lalu. Escalasi ini menandai titik krusial, sebab fasilitas pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kegiatan akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan, kini justru menjadi target dalam pusaran konflik. Sejak perang dimulai, sedikitnya 21 universitas di Iran dikabarkan mengalami kerusakan parah, memunculkan pertanyaan besar: mengapa sektor pendidikan kini ikut diseret menjadi medan pertempuran?
Perluasan target konflik ke institusi akademik ini jelas memicu kekhawatiran global. Dampaknya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga mengancam keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar, serta keselamatan ribuan mahasiswa dan staf pengajar. Lingkungan kampus yang seharusnya steril dari kekerasan politik, kini justru diwarnai ketidakpastian dan ketakutan.
Ancaman Iran terhadap universitas-universitas Amerika, meskipun detail spesifik mengenai bentuk ancaman atau lokasi persisnya belum dipublikasikan secara luas, mengindikasikan bahwa Iran melihat serangan terhadap institusi pendidikannya sebagai bagian integral dari 'perang' yang lebih besar. Analis menduga, pembalasan bisa berupa serangan siber, upaya mengganggu operasional, atau bahkan ancaman fisik, tergantung pada tingkat eskalasi dan respons selanjutnya dari AS dan Israel. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari komunitas internasional untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur pendidikan dan melindungi hak atas pendidikan di tengah gejolak geopolitik yang semakin panas.