Pemerintah Yaman yang diakui internasional resmi mendeklarasikan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai kelompok Houthi. Langkah ini menandai eskalasi baru dalam perang saudara yang sempat membeku selama beberapa tahun, sebelum kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC), Rashad al-Alimi, mengumumkan kampanye ini setelah pasukan Houthi mencatat kemajuan signifikan di sepanjang pesisir Laut Merah dan sekitar Kota Taiz yang strategis. Pada Senin, pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah meluncurkan serangan "strategis" menuju Ibu Kota Sanaa, yang dikuasai Houthi sejak 2014.
Di hari yang sama, pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan telah merebut kembali Distrik Dhubab di pesisir barat dekat Selat Bab al-Mandab. Namun, klaim ini dibantah keras oleh pihak Houthi. Juru bicara militer Yaman, Mayjen Abdullah al-Nuzaili, melaporkan bahwa 1.747 pejuang Houthi telah "dinetralkan" dalam 1.122 operasi militer di Saada, al-Jawf, Taiz, dan pesisir barat. Ia juga mengklaim 364 kendaraan militer dan logistik musuh hancur atau lumpuh. Angka-angka ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah Al-Zouba, menyerukan dukungan internasional, menyatakan bahwa stabilitas Yaman adalah "kepentingan dunia". Konflik ini kembali meletus setelah gencatan senjata rapuh tahun 2022 runtuh pada Juli lalu. Sejak itu, lebih dari 100.000 orang mengungsi. Bulan lalu, Houthi merebut sekitar 150 km garis pantai Laut Merah, mengancam jalur pelayaran internasional vital di Bab al-Mandab.
Dampak bagi Masyarakat: Eskalasi ini berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman yang sudah menjadi salah satu yang terparah di dunia. Warga sipil menghadapi risiko tinggi menjadi korban, kehilangan tempat tinggal, dan kelaparan. Bagi dunia internasional, penguasaan Houthi atas Bab al-Mandab mengancam stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, karena jalur ini adalah salah satu choke point pelayaran tersibuk.