PERANG IRAN: KEMENANGAN SEMU, KEPENTINGAN PRIBADI MENGUASAI - Berita Dunia
← Kembali

PERANG IRAN: KEMENANGAN SEMU, KEPENTINGAN PRIBADI MENGUASAI

Foto Berita

Kondisi di Timur Tengah kembali memanas dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Berbagai spekulasi pun bermunculan, di mana masing-masing pihak punya narasi sendiri. Israel menggembar-gemborkan "perubahan Timur Tengah", sementara AS bicara soal "membela rakyat Amerika". Keduanya tak henti menyerukan "perubahan rezim" di Iran, meski peluangnya masih jadi pertanyaan besar. Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, misalnya, belum berhasil memicu gejolak massa seperti yang diharapkan AS dan Israel.

Sekilas, AS dan Israel terlihat memimpin dengan meraih "kemenangan" awal. Serangan udara dan laut mereka yang tak terduga disebut berhasil melumpuhkan sebagian kepemimpinan Iran. Apalagi, reaksi dari Uni Eropa cenderung lemah, dan negara-negara Asia seolah tak ambil pusing, membuat kesan kemenangan bagi PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump makin kuat. Seolah tak ada yang sanggup menawarkan alternatif.

Namun, seorang analis independen punya pandangan berbeda. Ia menilai Netanyahu dan Trump mungkin memang memenangkan "ronde pertama" yang bersifat taktis dan cepat, tapi kemenangan ini pun diragukan. Ini terjadi karena adanya konvergensi kepentingan jangka pendek yang sangat kuat di antara keduanya, terutama terkait kelangsungan politik. Aliansi ini diperkirakan hanya berumur pendek, seiring dengan upaya masing-masing pihak untuk memanfaatkan "kemenangan" ini demi keuntungan pribadi mereka.

Apa Motif di Balik Ini?

Bagi Netanyahu, kemenangan melawan Iran — yang dianggap musuh terbesar Israel — sangat krusial untuk menutupi serangkaian kegagalan di Gaza dan Tepi Barat. Di tengah genosida terhadap rakyat Palestina, Israel juga mulai kehilangan cengkeraman atas Gaza. Di Tepi Barat, negara dan militer Israel bahkan terang-terangan mendukung pencurian tanah dan pembersihan etnis. Meskipun sebagian besar warga Israel tidak menentang hal ini, kepercayaan mereka pada institusi negara yang berpura-pura menjunjung hukum namun sangat politis, terus menurun. Kemenangan atas Iran diharapkan bisa mengembalikan citranya sebagai satu-satunya pemimpin yang mampu melindungi Israel, didukung penuh oleh militernya.

Meski berita asli terpotong, dapat dipahami bahwa Trump pun memiliki motif serupa demi kelangsungan politiknya. Proyeksi kekuatan militer dan kemenangan di kancah internasional bisa menjadi kartu truf penting untuk mengamankan posisi politik domestiknya.

Dampak Nyata dan Potensi Lanjutan

Jadi, "kemenangan" ini sejatinya rapuh dan didorong oleh kebutuhan politik mendesak para pemimpin, bukan strategi jangka panjang demi stabilitas kawasan. Ini mengindikasikan bahwa konflik di Timur Tengah kerap diperkeruh oleh agenda domestik dan pribadi para pemimpin, bukan semata-mata persoalan ideologi atau keamanan murni. Kegagalan "perubahan rezim dari udara" juga menunjukkan betapa kompleksnya situasi internal Iran dan potensi perlawanan yang lebih besar. Alih-alih mengakhiri konflik, kondisi ini justru membuka pintu bagi ketidakpastian dan destabilisasi yang lebih luas di masa depan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook