LALU LINTAS HORMUZ MENINGKAT: SIAPA DI BALIKNYA? - Berita Dunia
← Kembali

LALU LINTAS HORMUZ MENINGKAT: SIAPA DI BALIKNYA?

Foto Berita

Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, belakangan ini menunjukkan geliat aktivitas kapal yang signifikan. Setelah sempat 'mati suri' akibat ketegangan geopolitik, kini sejumlah kapal mulai terlihat melintas, memicu pertanyaan besar: ada apa di balik peningkatan ini?

Data intelijen maritim terbaru mengungkap, jumlah kapal dagang yang transit di Selat Hormuz, terutama yang tidak berbendera Iran, meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Perusahaan pelacak kapal Windward melaporkan, delapan kapal terdeteksi pada Senin lalu, sebuah lonjakan dibanding angka sebelumnya.

Michelle Wiese Bockmann, analis dari Windward, menduga kuat peningkatan ini bukan kebetulan. Menurutnya, Iran kemungkinan besar memberikan 'izin khusus' kepada negara-negara sahabat seperti Tiongkok, India, dan Pakistan untuk melintasi perairan teritorialnya. 'Kapal-kapal yang terafiliasi Barat kemungkinan tidak akan mau secara sukarela masuk perairan Iran, tapi lain halnya dengan Tiongkok, India, atau lainnya,' jelas Bockmann.

Namun, jangan salah. Meski ada peningkatan, lalu lintas di Selat Hormuz masih sangat jauh dari normal. Sejak konflik yang melibatkan Iran dan sejumlah pihak Barat memanas, jalur yang biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dunia ini mengalami penurunan drastis hingga lebih dari 95 persen. Akibatnya, harga minyak global sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel, meningkat lebih dari 40 persen dari sebelum krisis.

Sikap Iran terhadap Selat Hormuz sendiri masih membingungkan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan selat itu 'terbuka, tapi tertutup bagi musuh kami'. Pernyataan ini kontras dengan ancaman sebelumnya dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memperingatkan akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintas.

Sementara itu, Amerika Serikat juga tak tinggal diam. Presiden Donald Trump menyalahkan sekutu NATO karena menolak membantu mengamankan jalur pelayaran. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menjatuhkan bom 'bunker buster' pada situs rudal Iran di dekat selat, mengklaim rudal anti-kapal di sana membahayakan pelayaran internasional.

Situasi di Selat Hormuz ini jelas punya dampak besar bagi masyarakat global. Kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, meski kini ada sedikit pelonggaran lalu lintas, masih akan membebani kantong konsumen. Harga BBM dipastikan ikut terkerek, biaya transportasi dan logistik membengkak, yang pada akhirnya memicu inflasi dan menekan daya beli. Gangguan pada rantai pasok global ini tidak hanya terbatas pada minyak dan gas, tetapi juga bisa merembet ke komoditas lain, mengancam stabilitas ekonomi dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook