Konflik bersenjata di Yaman kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir, memaksa lebih dari 200.000 orang meninggalkan rumah mereka. Angka ini melonjak drastis dari catatan sebelumnya yang hanya sekitar 76.000 jiwa pada pertengahan September, menurut laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, menggambarkan situasi ini sebagai krisis yang sangat mengkhawatirkan. "Orang-orang melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, namun tidak menemukan tempat yang aman untuk dituju," ujarnya, seraya mendesak tambahan pendanaan internasional untuk kebutuhan pangan dan tempat tinggal.
Eskalasi ini menjadi yang terburuk sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 lalu. Kelompok Houthi yang didukung Iran—yang sudah menguasai Yaman utara termasuk Sanaa—kini mengambil alih seluruh pesisir Laut Merah dari pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi.
Ketegangan semakin memuncak setelah Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, mengumumkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk ibu kota Sanaa. Dampak kemanusiaan sangat terasa di Provinsi Taiz bagian barat daya, yang menjadi wilayah paling terdampak.
Selain pengungsian darat, lebih dari 3.700 orang melarikan diri dengan kapal ke Djibouti. Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan bahwa tiga dari empat keluarga di beberapa wilayah Yaman kini menghadapi kelaparan akibat konflik yang disebut "benar-benar menghancurkan" ini.
Analisis Dampak: Krisis ini berpotensi memicu gelombang pengungsian lintas negara yang lebih besar ke Djibouti dan Somalia, serta memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan Laut Merah yang strategis bagi jalur perdagangan global. Ketidakstabilan ini juga dapat memengaruhi harga minyak dan pengiriman internasional.