Gelombang investasi dan kehadiran warga Israel di Siprus memicu kekhawatiran di kalangan penduduk lokal. Mereka menilai pemerintah Siprus terlalu terbuka terhadap sekutu barunya itu, sementara harga properti melesat dan warga setempat mulai tersingkir dari pasar.
Fenomena ini terlihat nyata di Larnaca. Sebuah papan reklame berbahasa Ibrani bahkan memuat kampanye politik politisi Israel, Gadi Eisenkot, menjelang pemilu negara itu. Aktivis pro-Palestina, Melanie Steliou, menyebut kemunculan poster itu sebagai sinyal bahwa politisi Israel menganggap Siprus tak ubahnya 'distrik' tambahan bagi negara mereka.
Data statistik menguatkan lonjakan drastis tersebut. Sepanjang tahun lalu, warga Israel melakukan hampir 600 ribu kunjungan ke Siprus, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Di bulan Agustus saja, hampir satu dari empat turis yang datang adalah warga Israel. Tak hanya berlibur, mereka juga membeli properti secara masif. Tercatat 850 unit rumah dibeli warga Israel di distrik Larnaca dalam setahun terakhir, menjadikan mereka pembeli asing terbesar di sana.
Dampaknya, komunitas Israel di Siprus diperkirakan telah mencapai 15-20 ribu orang, jauh melampaui data sensus resmi. Sejarawan Theodosis Pipis menilai invasi modal ini berbeda dengan era Rusia di masa lalu. Jika dulu hanya gedung yang menjulang, kini warga Israel membangun komunitas, sekolah, dan ekosistem jangka panjang. Sayangnya, kondisi ini membuat warga lokal merasa tersingkir dari tanah mereka sendiri karena harga properti yang tak terjangkau.