Christa Pike, narapidana hukuman mati asal Amerika Serikat, akhirnya buka suara untuk pertama kalinya setelah insiden gagal eksekusi yang menimpanya pada September lalu. Dalam pernyataan yang dirilis tim kuasa hukumnya di media sosial, Jumat (waktu setempat), Pike mengungkapkan penderitaan fisik dan batin yang masih ia rasakan hingga kini.
"Tidak ada satu momen pun sejak malam itu di mana saya tidak merasakan sakit," ujarnya. Ia merinci, rasa nyeri masih menjalar di sekujur tubuh, mulai dari lengan, tangan, hingga tenggorokan. Dampak psikisnya pun tak kalah berat. Pike mengaku masih kesulitan berbicara dan merasakan luka mendalam di jiwa.
Perempuan berusia 50 tahun ini merupakan satu-satunya narapidana yang diketahui selamat dari upaya eksekusi mati dengan metode suntik mematikan. Ia menerima dua dosis injeksi pentobarbital yang seharusnya mematikannya, namun justru membuatnya kritis. Setelah dirawat intensif di rumah sakit, Pike akhirnya dipulangkan ke penjara pada akhir bulan lalu.
Pike mendekam di penjara sejak 30 tahun silam atas kasus pembunuhan Colleen Slemmer pada 1995. Meski kondisi kesehatannya berangsur membaik, ia menegaskan bahwa proses penyembuhan bukan berarti dirinya sudah baik-baik saja. Kasus ini memicu perdebatan baru mengenai efektivitas dan kemanusiaan metode hukuman mati, terutama ketika prosedur eksekusi gagal dan meninggalkan trauma berkepanjangan bagi terpidana.