Setelah bertahun-tahun porak-poranda akibat perang, Kota Mosul di Irak kini kembali merasakan denyut Ramadan yang penuh semangat. Tradisi kuno seperti lantunan lagu anak-anak, khusyuknya salat Tarawih di masjid bersejarah, hingga hiruk-pikuk pasar yang ramai, kini semarak lagi, seakan mengobati luka dan menyalakan kembali harapan bagi warganya.
Sejak awal Ramadan tahun ini, Mosul yang pernah menjadi medan tempur sengit melawan militan ISIS, menunjukkan tanda-tanda kebangkitan spiritual dan budaya yang nyata. Anak-anak kembali menyanyikan lagu tradisional 'Majina ya Majina' dengan pakaian khas di jalanan, menghidupkan warisan budaya yang sempat terdiam. Momen paling mengharukan adalah digelarnya kembali salat Tarawih di Masjid Agung al-Nuri dan menara Al-Hadba yang ikonik. Ini adalah kali pertama setelah hampir sembilan tahun, mengingat masjid itu pernah dibom pada 2017 saat puncak kampanye melawan ISIS. Kembalinya ibadah di sana bukan hanya restorasi fisik, tapi juga simbol bangkitnya kembali jiwa kota.
Tradisi seni penceritaan atau hakawati juga kembali hadir, membangkitkan kenangan masa lalu Mosul kepada generasi kini. Tak ketinggalan, musaharatiāpembangun sahur tradisionalāmasih setia berkeliling membangunkan warga sebelum fajar, mengingatkan pada ritual otentik Ramadan di tengah arus modernisasi. Permainan-permainan tradisional seperti siniya pun turut memeriahkan malam-malam Ramadan, menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan di antara peserta.
Di sektor ekonomi, pasar-pasar tradisional, khususnya Bab al-Saray yang bersejarah, kembali hidup dan ramai. Warga berbondong-bondong memenuhi lorong pasar untuk mencari kebutuhan musiman, dengan kurma menjadi komoditas primadona yang laris manis sebagai menu berbuka puasa.
Kembalinya tradisi-tradisi ini bukan sekadar rutinitas keagamaan semata. Ini adalah simbol ketahanan luar biasa masyarakat Mosul. Di balik reruntuhan dan trauma perang yang mendalam, semangat komunitas dan identitas budaya mereka tetap hidup dan kini bersemi kembali. Revitalisasi ini menjadi fondasi penting bagi pemulihan sosial dan psikologis pasca-konflik, sekaligus indikator stabilitas dan keamanan yang semakin membaik di wilayah tersebut. Sebuah bukti nyata bahwa kehidupan bisa bangkit lagi, bahkan setelah menghadapi kehancuran terparah.