Mantan Direktur FBI, James Comey, kembali menghadapi ancaman pidana. Jaksa federal resmi mengajukan berkas dakwaan yang menyeret namanya terkait dugaan kebocoran informasi pertahanan nasional. Ini menjadi upaya ketiga Departemen Kehakiman AS dalam membawa Comey ke meja hijau, sosok yang dikenal vokal mengkritik Presiden Donald Trump.
Berkas setebal tiga halaman itu tidak merinci secara detail kedua pasal yang menjerat Comey. Namun, tim kuasa hukum Comey menyebut kasus ini berakar pada tuduhan bocornya informasi rahasia ke The New York Times pada Oktober 2016, saat ia masih menjabat sebagai kepala FBI.
Comey tidak tinggal diam. Melalui video yang diunggah di Substack, ia membantah semua tuduhan dan menyebut langkah hukum ini sebagai "penyalahgunaan kekuasaan yang memuakkan." Ia menegaskan dirinya tetap tidak bersalah dan tidak takut menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang mencoba menjatuhkannya.
Pengacara Comey, Patrick Fitzgerald, angkat bicara. Ia menyoroti fakta bahwa dua tim jaksa berbeda telah menyelidiki kasus yang sama satu dekade lalu, dan keduanya memutuskan tidak ada dasar untuk menuntut siapa pun. Fitzgerald menilai dakwaan baru ini memaksakan pasal-pasal yang tidak pernah dilakukan kliennya, dan tim hukum Comey telah mengajukan mosi untuk membatalkan dakwaan tersebut.
Analisis hukum dari mantan jaksa federal Glenn Kirschner kepada BBC menyebut kasus ini berpotensi gugur karena telah melewati batas waktu statuta 10 tahun. Kirschner menilai langkah ini sebagai upaya balas dendam Trump yang memanfaatkan Departemen Kehakiman untuk mencari-cari kesalahan Comey. Dampaknya bagi publik, kasus ini semakin mempertebal kesan bahwa institusi penegak hukum AS sedang dipolitisasi untuk menyerang lawan politik, sehingga memicu kekhawatiran soal independensi keadilan di mata masyarakat.