Washington, DC – Sebuah titik terang muncul di tengah ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Seorang pejabat senior AS untuk pertama kalinya memberikan gambaran paling jelas tentang isi nota kesepahaman (MoU) yang dijadwalkan akan ditandatangani kedua negara pada Jumat ini.
Dalam pengarahan dengan wartawan, pejabat tersebut membacakan 14 poin penting dari perjanjian yang diklaim sudah ditandatangani secara elektronik oleh kedua pihak. Meski begitu, Iran belum mengonfirmasi versi teks yang dibacakan AS, dan belum ada satu pun salinan fisik perjanjian yang dirilis ke publik.
Poin paling krusial dari kesepakatan awal ini adalah penghentian segera semua operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon. Selain gencatan senjata, AS berjanji akan mencabut blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari dan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas maritim. Sebagai imbalannya, Iran setuju untuk bernegosiasi selama 60 hari ke depan mengenai program nuklirnya, status Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga rencana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS yang didukung Washington.
Analisis: Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan harga energi global. Jika benar-benar terealisasi, pembukaan kembali Selat Hormuz akan menurunkan harga minyak dunia secara signifikan. Namun, keraguan masih besar karena Iran belum angkat bicara. Banyak pengamat menilai ini adalah strategi Trump untuk meredakan tekanan domestik menjelang pemilu, sementara Iran mungkin hanya memanfaatkan kelonggaran sanksi sebelum negosiasi inti dimulai.