JAKARTA – Penyakit paru-paru hitam atau black lung yang sempat dianggap terkendali di Amerika Serikat, kini kembali muncul dengan lebih ganas. Sebuah investigasi terbaru mengungkap lonjakan kasus yang menyerang penambang batu bara di usia produktif, bahkan ada yang baru berusia 20-an tahun.
Investigasi dari program Fault Lines Al Jazeera English menemukan fakta mengejutkan. Jika dulu penyakit ini identik dengan penambang tua yang sudah bekerja puluhan tahun, kini black lung justru banyak ditemukan pada pekerja muda. Salah satu contohnya adalah Mackie Branham Jr yang didiagnosis di usia 30-an dan harus menjalani transplantasi paru-paru ganda.
Radiolog Brandon Crum mencatat peningkatan drastis kasus parah, termasuk pada penambang di usia 20 dan 30 tahun. Apa pemicunya? Perubahan metode penambangan membuat pekerja terpapar debu silika dalam jumlah lebih besar. Debu silika ini lebih berbahaya karena dapat melukai paru-paru lebih cepat dan lebih parah dibanding debu batu bara biasa.
John Robinson, mantan penambang yang kini kesulitan bernapas setelah bertahun-tahun bekerja di bawah tanah, menjadi saksi hidup betapa kejamnya penyakit ini. Setelah diagnosis, para mantan penambang harus berjuang bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga birokrasi untuk mendapatkan hak kompensasi mereka.
Analisis: Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri pertambangan global, termasuk Indonesia. Jika perlindungan debu tidak diperketat, kita bisa menyaksikan krisis kesehatan pekerja tambang yang lebih besar. Ini bukan sekadar masalah kesehatan, tapi juga keadilan bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa untuk energi negara.