Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) tengah menyelidiki dugaan bahwa Corey Lewandowski, mantan ajudan senior Menteri Keamanan Dalam Negeri (DHS) Kristi Noem, mengambil keuntungan pribadi dari jabatannya. Penyelidikan ini berfokus pada kontrak-kontrak yang ditandatangani DHS selama masa kepemimpinan Noem, menurut sumber CBS News.
Lewandowski, yang menjabat sebagai pegawai pemerintah khusus, bekerja erat dengan Noem hingga Maret lalu. Keduanya tersingkir setelah serangkaian kontroversi, termasuk penembakan fatal terhadap warga AS oleh petugas imigrasi. Lewandowski diduga menyetujui sejumlah kontrak DHS meski tidak memiliki wewenang hukum, bahkan sempat menahan beberapa hibah dan kontrak, termasuk yang melibatkan FEMA.
Pengacara Lewandowski, Adam Trigg, membantah kliennya melakukan kesalahan dan menyatakan belum ada kontak dari DOJ. Presiden Donald Trump, saat ditanya soal penyelidikan ini, menegaskan ingin anak buahnya jujur. "Jika mereka tidak jujur, mereka harus dituntut," ujarnya.
Penyelidikan ini juga menyoroti kontroversi kontrak iklan senilai $220 juta yang diberikan Noem kepada dua perusahaan yang memiliki hubungan dengannya. Selain itu, Wall Street Journal melaporkan Lewandowski diduga mencoba memanfaatkan posisinya untuk keuntungan finansial dengan meminta negara-negara Timur Tengah mempekerjakannya secara sampingan untuk urusan visa dan DHS.
Analisis Dampak: Kasus ini menyoroti celah pengawasan terhadap pegawai pemerintah khusus yang memiliki akses besar namun minim batasan hukum. Bagi masyarakat, penyelidikan ini menjadi ujian transparansi pemerintah dalam mengelola anggaran publik, terutama kontrak bernilai besar. Jika terbukti, kasus ini bisa memicu reformasi aturan etika pejabat sementara dan memperketat pengawasan kongres terhadap DHS.