TEHERAN - Ketegangan di jalur pelayaran paling strategis dunia kembali memanas. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat (AS) menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran untuk membuka kembali jalur tersebut.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf. Melalui kantor berita Nournews, ia menekankan bahwa era di mana AS bisa membuang waktu dan memaksakan kehendak secara sepihak sudah berakhir. Ghalibaf menegaskan, "Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami berdasarkan memorandum Islamabad dipenuhi."
Iran juga menyatakan sikapnya yang tidak akan terpancing emosi maupun terintimidasi oleh proposal terbaru AS. Mereka menegaskan akan mengambil dua jalur sekaligus: berperang di medan militer jika perlu, namun tetap membuka ruang negosiasi. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal Iran untuk membuka kembali selat tersebut pekan lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menambahkan bahwa pihaknya serius mencari solusi diplomatik, namun juga serius dalam mempertahankan diri. Ia memperingatkan, jika AS kembali melakukan aksi militer, Iran kini jauh lebih siap menghadapi segala kemungkinan.
Analisis Dampak: Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi global, tempat lewat seperlima dari total minyak dan gas alam dunia pada masa damai. Penutupan yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu ini telah memicu salah satu gangguan pelayaran terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Bagi masyarakat global, kelanjutan blokade ini berpotensi besar memicu lonjakan harga energi dan krisis logistik yang berkepanjangan, mengingat tidak ada jalur alternatif yang sepadan untuk menggantikan volume distribusi energi dari Selat Hormuz.