Jaringan satelit militer Starshield milik Ukraina sempat lumpuh total selama dua hari, Selasa hingga Rabu lalu. Padahal, sistem ini adalah nyawa bagi pertahanan mereka melawan Rusia. Seorang sumber di Kementerian Pertahanan Ukraina memastikan layanan tersebut kini sudah pulih, namun mereka masih menuntut penjelasan dari SpaceX selaku perusahaan induknya.
Insiden ini bukan sekadar gangguan teknis biasa. Seorang penasihat pertahanan Presiden Zelenskyy, Serhiy Beskrestnov, mengungkapkan bahwa SpaceX menerapkan 'batas kecepatan' pada terminal Starlink. Internet dibatasi hanya sampai 160 km/jam. Akibatnya, drone atau rudal yang melaju lebih cepat dari itu kehilangan koneksi panduan dan gagal menyelesaikan misi.
Yang lebih mengejutkan, gangguan ini terjadi tepat saat Rusia meluncurkan serangan besar-besaran. Lebih dari 100 drone dan lima rudal balistik menghantam Ukraina tanpa peringatan dini dari mitra internasional. Zelenskyy menegaskan bahwa intelijen peringatan dini rudal balistik sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa warga sipil.
CEO SpaceX, Elon Musk, membantah terlibat dalam pembatasan tersebut. Ia bersikeras bahwa sistem itu sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Namun, pernyataan ini kontras dengan klaim Presiden Trump yang menyatakan Washington masih berbagi intelijen dengan Kyiv. Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali atas infrastruktur komunikasi vital di medan perang.