JAKARTA - Fenomena iklim El Niño tahun ini resmi mencetak rekor baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data terbaru dari Biro Meteorologi Australia (BOM) menunjukkan suhu permukaan laut rata-rata mingguan di Pasifik tengah telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Rekor ini tercipta hanya beberapa minggu sebelum puncak El Niño yang diprediksi terjadi pada Desember mendatang. Yang mengejutkan, suhu panas ini tidak hanya terbatas di wilayah tropis Pasifik yang biasa dipantau, tetapi telah meluas hingga ke Teluk Meksiko.
Dr. Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, menyebut situasi ini sebagai "peristiwa El Niño yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah." Ia menjelaskan bahwa kekuatan El Niño tahun ini 'meluber' keluar dari wilayah tradisionalnya.
Para ilmuwan mencatat bahwa rekor ini tercipta di tengah latar belakang pemanasan laut global akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, lembaga prakiraan cuaca Australia dan AS kini menggunakan indeks baru bernama Relative Ocean El Niño Index (RONI) guna memisahkan sinyal pemanasan alami El Niño dari pemanasan akibat ulah manusia.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi masyarakat Indonesia, El Niño yang kuat ini berpotensi besar memicu kekeringan panjang, gagal panen, dan krisis air bersih di berbagai daerah. Fenomena ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat menyebabkan kabut asap lintas negara. Masyarakat diimbau untuk lebih hemat air dan waspada terhadap lonjakan harga pangan akibat gangguan produksi pertanian.