Jakarta, CNN Indonesia — Serangan Israel ke Lebanon baru-baru ini bukan sekadar aksi militer biasa. Di balik dentuman bom, ada skenario politik besar yang sedang dimainkan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Analis urusan Israel, Dan Perry, mengungkapkan bahwa serangan ini bisa jadi bagian dari 'sandiwara' menjelang potensi kesepakatan baru antara AS dan Iran. Menurut Perry, Washington mungkin 'berpura-pura' tidak bisa mengendalikan Israel untuk menyerang Hizbullah di Lebanon, hanya agar negosiasi dengan Teheran bisa berjalan mulus.
"AS mungkin pura-pura Israel tidak bisa disuruh menahan diri dari menyerang Hizbullah, demi mendapatkan kesepakatan ini selesai," kata Perry kepada Al Jazeera.
Analisis ini membuka tabir baru: alih-alih meredakan ketegangan, serangan ke Lebanon justru bisa menjadi alat tawar AS untuk menekan Iran. Jika Iran ingin menghentikan serangan ke sekutunya (Hizbullah), Teheran harus memberi konsesi dalam perundingan nuklir atau isu lainnya.
Dampaknya bagi masyarakat global, situasi ini membuat Timur Tengah kian panas. Harga minyak dunia berpotensi melonjak, dan risiko perang terbuka antara Israel-Hizbullah-Iran semakin nyata. Bagi Indonesia, ini alarm waspada soal keselamatan WNI di Lebanon dan stabilitas pasokan energi.