Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, tak segan melontarkan kritik tajam kepada pemerintahan yang berkuasa. Ia terang-terangan menyebut pasukan militer Israel kini 'dalam kondisi kolaps'.
Menurut Lapid, kondisi ini adalah imbas dari keputusan pemerintah yang memaksakan perang di berbagai front sekaligus, namun tanpa bekal strategi yang jelas. Situasi ini kian pelik dengan keterlibatan militer Israel dalam serangan berkelanjutan di Iran, invasi ke Lebanon selatan, serta pendudukan di Gaza dan Tepi Barat.
Kritik pedas dari seorang pemimpin oposisi bukan bualan belaka. Ini bisa jadi alarm serius tentang adanya keretakan internal dalam strategi perang Israel. Bayangkan saja, militer harus berjibaku di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan bahkan Iran secara bersamaan. Para pengamat menduga, kondisi ini berpotensi membuat militer Israel mengalami 'overstretch' atau pengerahan kekuatan yang melampaui batas kemampuan. Dampaknya tidak main-main: moral pasukan bisa merosot, kepercayaan publik luntur, dan posisi Israel di kancah internasional bisa tergerus. Belum lagi tekanan politik domestik yang makin memanas terhadap pemerintahan yang berkuasa.