Kabar duka menyelimuti panggung politik India. Ajit Pawar, Wakil Ketua Menteri Maharashtra yang merupakan salah satu negara bagian terkaya di India, dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat pribadi pada Rabu kemarin. Insiden tragis ini tak hanya merenggut nyawa Pawar, yang berusia 66 tahun, tetapi juga empat orang lainnya di dalam pesawat tersebut.
Kecelakaan terjadi saat pesawat dalam perjalanan dari Mumbai menuju kota kelahirannya, Baramati. Pesawat jatuh di lahan terbuka dan seketika terbakar hebat, sekitar 254 kilometer dari ibu kota negara bagian. Hingga kini, penyebab pasti insiden mematikan itu masih misterius dan sedang dalam penyelidikan mendalam oleh pihak berwenang.
Kematian Ajit Pawar tentu meninggalkan lubang besar dalam lanskap politik India, terutama di Maharashtra. Pria kelahiran 1959 ini dikenal sebagai figur politik kunci dan pejabat terpilih kedua tertinggi di negara bagian tersebut. Ia merupakan sekutu penting bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi di pemerintahan negara bagian.
Perjalanan politik Pawar terbilang panjang dan penuh liku. Ia memulai karirnya di Partai Kongres India pada akhir 1980-an, banyak dipengaruhi pamannya, Sharad Pawar. Sejak 1991, ia terpilih sebagai anggota Majelis Legislatif Maharashtra dari konstituensi Baramati selama delapan periode berturut-turut—sebuah rekor.
Pada 1999, saat pamannya membentuk Partai Kongres Nasionalis (NCP), Pawar bergabung dan beberapa kali menjabat sebagai Wakil Ketua Menteri Maharashtra dalam koalisi yang dipimpin NCP. Pada 2019, ia sempat berpaling sebentar ke kabinet BJP sebelum kembali ke NCP. Namun, pada 2023, ia kembali menciptakan perpecahan internal di NCP dengan bergabung bersama koalisi pimpinan BJP. Faksi Ajit Pawar ini bahkan baru diakui sebagai NCP resmi oleh Komisi Pemilihan India pada Februari 2024, dan di tahun yang sama, ia kembali dilantik sebagai Wakil Ketua Menteri Maharashtra untuk keenam kalinya.
Selain kiprah politiknya, Pawar juga dikenal atas kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur besar-besaran, khususnya di area Pimpri-Chinchwad dan kota Baramati. Proyek-proyek seperti pelebaran jalan dan fasilitas publik yang lebih baik menjadi warisannya. Meski demikian, karirnya juga tak lepas dari kontroversi. Ia pernah terseret dalam dua kasus korupsi besar, termasuk dugaan skandal irigasi di Maharashtra antara 1999-2009 dan dugaan skandal tanah di Pune yang melibatkan perusahaan anaknya tahun lalu.
Tragedi ini dipastikan akan memicu gejolak dan perubahan signifikan dalam dinamika politik Maharashtra, mengingat posisi strategis Pawar sebagai jembatan penting antara BJP dan faksi NCP-nya. Kekosongan kepemimpinan yang mendadak ini berpotensi membuka babak baru ketidakpastian politik di negara bagian terkaya India tersebut, serta mungkin menghidupkan kembali pembahasan atas kasus-kasus korupsi yang pernah menjeratnya.