Pemilihan presiden Brasil 2026 berakhir dramatis. Luiz Inacio Lula da Silva resmi mengamankan periode keempatnya sebagai Presiden Brasil setelah mengalahkan Senator sayap kanan Flavio Bolsonaro dalam putaran kedua. Kemenangan ini bukan tanpa kontroversi. Kubu Bolsonaro menolak hasil dan meminta pemungutan suara dianulir, memprotes perpanjangan waktu pencoblosan selama dua jam yang dinilai tidak wajar oleh Hakim Agung Cristiano Zanināmeski kedua kandidat sebenarnya sempat meminta tambahan waktu tersebut.
Dunia pun bereaksi. Para pemimpin sayap kiri global ramai-ramai memberi selamat. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan "demokrasi hidup, rakyat Brasil menang." PM Kanada Mark Carney melihat peluang mempererat hubungan dagang dan lingkungan. Senator progresif AS Bernie Sanders memuji kemenangan "luar biasa" Lula yang dinilai membela pekerja dan demokrasi. Wali Kota New York Zohran Mamdani menyerukan persatuan rakyat.
Sebaliknya, Donald Trump Jr. mengkritik hasil dengan menyoroti perpanjangan waktu voting, menuduh media arus utama AS bungkam karena "sejalan dengan agenda." Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut kemenangan Lula sebagai jaminan keberlanjutan perdamaian dan keadilan sosial di kawasan. Presiden Chile Gabriel Kast mengaku telah menelepon Lula dan berkomitmen memperkuat integrasi ekonomi serta kerja sama melawan kejahatan terorganisir.
Analisis Dampak: Kemenangan Lula mempertegas poros kiri di Amerika Latin, namun gesekan dengan kubu konservatifāterutama terkait integritas pemiluāberpotensi memicu ketegangan politik domestik. Bagi masyarakat Brasil, stabilitas kebijakan sosial dan lingkungan kemungkinan berlanjut, tetapi polarisasi pendukung Bolsonaro masih menjadi PR besar. Dunia internasional akan mencermati bagaimana Lula menavigasi hubungan dagang dengan AS dan Eropa di tengah tekanan global.