Jakarta, Pialang Berita – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat keputusan mengejutkan dengan membatalkan kesepakatan sementara dengan Iran dan memberlakukan kembali blokade militer di Selat Hormuz. Keputusan ini diumumkan hanya 24 jam setelah ia sebelumnya mengusulkan pungutan 20% bagi kapal asing yang melintas, lalu mundur dari rencana tersebut.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa semua kapal yang melintasi Selat Hormuz harus membayar biaya keamanan. Namun keesokan harinya, ia membatalkan ide itu dan menggantinya dengan tawaran 'kesepakatan dagang dan investasi' kepada sekutu AS di Teluk. Perubahan sikap yang drastis ini menunjukkan kebingungan strategi di tengah tekanan perang yang sudah berlangsung lebih dari empat bulan.
Analis dari Defense Priorities, Rosemary Kelanic, menilai konflik ini berubah menjadi perang atrisi yang cenderung berlarut-larut. "Tidak ada pihak yang benar-benar menang. Ini bisa berlangsung sangat lama," ujarnya.
Meski militer AS berhasil menghancurkan sejumlah target Iran, secara politik mereka gagal mengamankan jalur pelayaran. Iran masih mampu mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia. Dampaknya langsung terasa: harga minyak global berpotensi melonjak, dan rantai pasok energi ke Asia, termasuk Indonesia, terancam terganggu.
Keputusan Trump ini juga menuai kritik karena dianggap mempermainkan diplomasi. Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani sebulan lalu kini dianggap mati, meninggalkan ketidakpastian baru di kawasan Timur Tengah.