Situasi program nuklir Iran kembali jadi sorotan tajam setelah Gedung Putih bersikeras bahwa serangan militer Amerika Serikat tahun lalu sukses menghancurkan fasilitas nuklir Teheran. Namun, pernyataan kontradiktif justru datang dari lingkaran dalam Presiden Donald Trump, yang menyebut Iran kini hanya berjarak sepekan dari materi pembuat bom nuklir. Klaim yang saling bertolak belakang ini menimbulkan kebingungan dan pertanyaan besar: mana yang benar?
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Selasa lalu menegaskan bahwa serangan pada Juni 2025, yang dikenal sebagai 'Operation Midnight Hammer', merupakan misi yang sangat sukses. Menurutnya, fasilitas nuklir Iran 'benar-benar hancur lebur' dan kehancuran ini telah 'diverifikasi' oleh Presiden Trump dan badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA).
Namun, pada akhir pekan sebelumnya, Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Trump, membuat pernyataan mengejutkan kepada Fox News. Witkoff menyebut Iran 'mungkin hanya seminggu lagi dari memiliki material pembuat bom kualitas industri.' Ini jelas bertolak belakang dengan klaim Gedung Putih dan pernyataan Trump yang berulang kali mengelu-elukan serangan itu sebagai pemusnah program nuklir Iran dan pembawa 'perdamaian' di Timur Tengah.
Kontradiksi ini semakin dalam. Pasalnya, delapan bulan setelah serangan, PBB melalui kepala IAEA, Rafael Grossi, pernah menyatakan Iran bisa melanjutkan pengayaan uranium 'dalam hitungan bulan'. Yang lebih mengkhawatirkan, inspektur IAEA dilaporkan belum bisa menilai langsung situs nuklir Iran sejak serangan AS. Penilaian publik dari Pentagon sendiri hanya menyebut program nuklir Iran mundur satu hingga dua tahun, bukan musnah total. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari klaim AS bahwa Iran telah melanjutkan pengayaan nuklir pasca-serangan.
Di tengah tarik ulur informasi ini, ketegangan di kawasan terus memanas. Presiden Trump sempat mengancam akan menyerang Iran lagi jika Teheran mencoba membangun kembali program nuklir atau misilnya. AS juga diketahui telah menumpuk aset militer di dekat Iran. Ironisnya, di saat yang sama, Washington dan Teheran justru dijadwalkan kembali duduk bersama untuk putaran ketiga negosiasi demi mencapai kesepakatan nuklir baru dan menghindari perang.
Iran, yang selalu membantah tuduhan mengejar senjata nuklir, menyatakan siap menyetujui pengayaan uranium minimal di bawah pengawasan ketat IAEA, asalkan sanksi ekonomi terhadap mereka dicabut. Namun, Presiden Trump berulang kali menekankan ambisinya untuk 'nol pengayaan' bagi Iran. Pengayaan sendiri adalah proses penting untuk memisahkan dan memusatkan isotop uranium langka yang bisa menghasilkan fisi nuklir. Di tingkat rendah, uranium yang diperkaya bisa jadi bahan bakar pembangkit listrik, namun di tingkat tinggi, ia bisa digunakan untuk senjata nuklir.
Analisis Dampak: Inkonsistensi pernyataan dari pemerintah AS sendiri bisa menciptakan kebingungan besar di kalangan publik dan sekutu internasional. Klaim ajudan Trump berpotensi memicu eskalasi ketegangan, memperumit upaya diplomatik yang sedang berjalan, serta menimbulkan keraguan serius terhadap kredibilitas informasi intelijen dan strategi luar negeri Amerika Serikat di kawasan. Ini adalah situasi yang patut diwaspadai karena berpotensi mengubah peta geopolitik di Timur Tengah.