Washington, DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial. Ia menyebut kesepakatan yang baru saja ditandatangani dengan Iran sebagai bentuk 'penyerahan tanpa syarat' dari negara tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah tanda-tanda keretakan, setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss untuk memulai negosiasi lanjutan.
Dalam unggahan di media sosialnya, Truth Social, Trump menegaskan bahwa perang yang diluncurkan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu telah berhasil melumpuhkan kemampuan militer Iran. Ia menyebut Iran bernegosiasi karena 'keputusasaan' dan menyatakan negara itu 'selesai'. Trump juga mengklaim dirinya telah memperkuat posisi AS di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan yang diteken kedua pihak mencakup beberapa poin penting: pembukaan kembali Selat Hormuz, pengakhiran blokade laut AS di pelabuhan Iran, dan penghentian pertempuran di semua lini, termasuk di Lebanon. Namun, rencana itu langsung dikritik habis-habisan oleh Partai Demokrat dan beberapa tokoh Republik.
Senator Tom Cotton, Ketua Komite Intelijen Senat, mengecam pencabutan sanksi langsung terhadap industri minyak Iran. Sementara Senator Roger Wicker menyoroti rencana dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS untuk Iran yang dinilai tidak masuk akal. Kekhawatiran lain muncul karena Israel masih terus melakukan serangan di Lebanon, yang berpotensi menggagalkan kesepakatan diplomatik ini.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan kembali bahwa Teheran tetap menahan AS bertanggung jawab atas serangan di Lebanon. Ia menolak klaim Trump bahwa Iran berada dalam posisi lemah.
Analisis: Pernyataan Trump yang cenderung provokatif justru bisa menjadi bumerang. Dalam diplomasi, menyebut lawan 'menyerah' hanya akan mempermalukan mereka di depan publik sendiri dan mempersulit negosiasi di meja perundingan. Pembatalan kunjungan Vance ke Swiss menjadi sinyal kuat bahwa implementasi kesepakatan ini masih jauh dari kata pasti. Jika Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon, seluruh kerangka gencatan senjata ini bisa runtuh dalam hitungan hari.