Kasus suspek Ebola yang muncul di Wajir, Kenya timur laut, memang berakhir negatif. Tapi insiden ini membuka mata banyak pihak soal celah besar dalam sistem kesiapsiagaan wabah di daerah terpencil. Pasalnya, Wajir berada jauh dari rumah sakit besar, laboratorium, dan pusat transportasi utama.
Seorang pria 20 tahun yang baru tiba dari Republik Demokratik Kongo melalui Uganda sempat dirawat di Rumah Sakit Habaswein dengan gejala demam tinggi. Meski hasil tesnya negatif, kejadian ini memicu pertanyaan krusial: apakah fasilitas kesehatan di pelosok mampu mendeteksi, mengisolasi, dan menangani kasus Ebola dengan aman?
Pemerintah Kabupaten Wajir mengklaim sudah menyiapkan pusat isolasi di kota Wajir, membentuk tim respons cepat, hingga menggencarkan kampanye radio dan poster. Namun, mereka tidak membeberkan detail kapasitas isolasi, jumlah tenaga kesehatan terlatih, atau anggaran yang dialokasikan. Tanpa transparansi itu, sulit menilai apakah sistem di lapangan benar-benar siap menghadapi wabah yang lebih luas.
Yang tak kalah penting, Wajir hanya berjarak 110 km dari perbatasan Somalia. Mobilitas orang dan barang lintas negara membuat pengawasan dan komunikasi publik jadi sangat vital. Pemeriksaan di pintu masuk resmi memang penting, tapi tidak cukup menggantikan kemampuan fasilitas kesehatan lokal dalam merespons ancaman wabah secara mandiri.