DAMASKUS - Otoritas Suriah mendesak investigasi independen dan transparan terkait tenggelamnya kapal kargo berbendera Togo, Alfa Watan, di Zona Ekonomi Eksklusif Bulgaria di Laut Hitam. Insiden ini mencuat bukan hanya karena serangan yang diduga kuat berasal dari drone, tetapi juga karena operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dihentikan sebelum nasib 10 awak kapal diketahui.
Dari 10 awak yang hilang, sembilan di antaranya merupakan warga negara Suriah dan satu orang berkewarganegaraan Mesir. Kepala Otoritas Pelabuhan Suriah, Mazen Aloush, mempertanyakan alasan di balik penghentian misi SAR tersebut. "Nasib mereka masih belum diketahui," ujarnya, seraya menuntut penjelasan mengapa operasi dihentikan sebelum para pelaut ditemukan.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya serangan drone terhadap pelayaran di Laut Hitam sejak perang Rusia-Ukraina meletus. Selain Alfa Watan, kapal berbendera Palau bernama Able juga menjadi sasaran dan terbakar. Beruntung, 18 awak kapal Able yang terdiri dari warga Turki dan India berhasil diselamatkan. Namun, hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Analisis Dampak: Insiden ini menambah kekhawatiran global akan keselamatan jalur pelayaran komersial di Laut Hitam. Bagi masyarakat internasional, khususnya keluarga awak kapal, ketidakpastian nasib kerabat mereka menjadi pukulan psikologis yang berat. Penghentian operasi SAR yang terlalu dini menimbulkan pertanyaan etis dan prosedural, serta berpotensi menciptakan preseden buruk dalam penanganan kecelakaan maritim di wilayah konflik. Serikat pelaut Suriah mengecam serangan terhadap kapal sipil sebagai pelanggaran serius terhadap keamanan maritim.