JAKARTA - Ketegangan hubungan bilateral antara Ethiopia dan Sudan kian memanas. Pemerintah Ethiopia resmi memerintahkan enam staf diplomatik Sudan untuk angkat kaki dari negaranya dalam waktu 48 jam. Langkah ini diambil setelah Ethiopia menutup Konsulat Sudan di Kota Asosa, wilayah perbatasan, pada Selasa (25/2).
Pengusiran ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Sudan telah melayangkan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB dan Uni Afrika. Sudan menuduh Ethiopia telah membiarkan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menggunakan wilayahnya sebagai basis peluncuran serangan drone mematikan ke infrastruktur sipil di Sudan.
Meski demikian, Ethiopia membantah keras tuduhan tersebut. Sebaliknya, Addis Ababa menuding Khartoum mendukung pemberontak di wilayah Tigray, Ethiopia utara. Kedua negara saling lempar tuduhan terkait konflik internal masing-masing, memicu kekhawatiran akan meletusnya perang terbuka di kawasan Tanduk Afrika.
Analisis Dampak: Eskalasi ini berisiko menciptakan instabilitas regional yang lebih luas. Bagi masyarakat Sudan yang tengah dilanda krisis kemanusiaan akibat perang saudara, potensi konflik dengan Ethiopia menjadi ancaman serius. Pasalnya, serangan drone yang dituduhkan ke RSF telah melumpuhkan layanan listrik dan air bersih, mengancam nyawa jutaan warga sipil. Jika ketegangan ini tidak diredam, aliran bantuan kemanusiaan lintas batas bisa terhambat, memperparah penderitaan pengungsi yang jumlahnya sudah mencapai 14 juta jiwa.