Kenaikan harga kebutuhan hidup dan biaya medis yang melonjak ternyata tidak menggoyahkan loyalitas para pendukung garis keras Donald Trump. Di McConnellsburg, Pennsylvania—wilayah basis Republik—Calvin Ott (75), seorang pemilik usaha pertamanan, tetap setia pada Trump meski harus tetap bekerja di usianya yang tak lagi muda karena tak mampu pensiun.
Ott, yang telah menjalani operasi bypass jantung empat kali dan berjuang melawan kanker kulit, mengaku harga obat-obatannya naik lebih dari dua kali lipat sejak tahun lalu. Namun, pria yang telah tiga kali memilih Trump ini menegaskan dukungannya 100 persen, bukan karena kinerja ekonomi Trump, melainkan karena ia menganggap Trump satu-satunya presiden yang menepati janji dan membenci perang.
Fenomena ini menyoroti kesenjangan persepsi: survei AP-NORC bulan lalu menunjukkan hanya 17 persen orang dewasa AS yang menyetujui cara Trump menangani biaya hidup. Alih-alih menyalahkan Trump atas kesulitan ekonomi, para pendukung MAGA ini justru melayangkan kemarahan mereka kepada pemerintahan sebelumnya, Joe Biden, yang dianggap tidak memberikan dampak positif bagi kesejahteraan mereka.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan bahwa isu ekonomi mungkin tidak cukup kuat untuk menggeser suara basis pendukung Trump di pemilu mendatang. Namun, bagi masyarakat umum, tingginya biaya hidup menjadi perhatian utama yang bisa menjadi celah bagi oposisi untuk merebut suara pemilih moderat yang mulai merasakan tekanan finansial secara langsung.