TEHERAN, IRAN - Meski diterpa sanksi ekonomi bertubi-tubi dari Amerika Serikat dan gejolak perang di Timur Tengah, denyut pasar teknologi di Iran ternyata belum mati. Buktinya, jajaran iPhone 18 terbaru dari Apple sudah mulai dijual di pusat perbelanjaan elektronik Charsou Mall, Teheran, hanya berselang beberapa hari setelah peluncuran globalnya pada 18 September lalu.
Fenomena ini menjadi catatan menarik. Pasalnya, Apple tidak memiliki kehadiran fisik resmi di Iran akibat sanksi internasional yang telah berlangsung bertahun-tahun, ditambah lagi blokade laut AS di pelabuhan selatan Iran. Namun, para pedagang lokal rupanya punya seribu akal untuk tetap mendatangkan barang mewah tersebut.
Seorang pedagang elektronik yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa arus impor kini jauh lebih rumit dan mahal. Jika biasanya barang masuk via Dubai, konflik berkepanjangan dengan AS dan Israel serta penghentian transaksi dagang oleh UAE pada Agustus lalu memaksa mereka mencari celah lain. Kini, banyak ponsel pintar itu diselundupkan melalui jalur darat dari Sulaimaniyah, Irak, setelah sebelumnya dibawa melalui Oman atau penerbangan internasional yang semakin langka.
Dampaknya bagi konsumen sangat terasa. Harga perangkat seperti MacBook Air M4 15 inci dan PlayStation 5 Slim di Teheran melambung 6 hingga 11 persen lebih tinggi dibandingkan harga di negara tetangga. Belum lagi, pemerintah Iran mewajibkan biaya registrasi khusus bagi ponsel impor. Tanpa membayar biaya ini (yang besarnya bervariasi mulai dari 6 hingga 30 persen tergantung harga perangkat), sinyal seluler pada ponsel tersebut hanya akan aktif selama 30 hari.
Kebijakan ini sejatinya diberlakukan untuk menekan angka penyelundupan, namun di tengah krisis ekonomi, hal ini justru memberatkan masyarakat yang mendambakan perangkat teknologi terbaru. Meski barang bisa masuk, daya beli masyarakat yang tergerus inflasi membuat iPhone 18 hanya menjadi pajangan bagi sebagian besar warga Iran.