Krisis listrik di Jalur Gaza telah mencapai titik parah, memaksa ribuan keluarga pengungsi untuk menghadapi kegelapan setiap malam. Jaringan listrik utama porak-poranda akibat konflik, membuat warga bergantung sepenuhnya pada alternatif yang mahal dan sulit didapatkan.
Kisah Abdel Karim Salman, seorang insinyur sipil yang kini menjadi pengungsi di Deir el-Balah, Gaza tengah, menggambarkan ironi pahit ini. Setiap pagi, ia harus membawa dua ponsel miliknya dan istrinya, yang baterainya telah terkuras habis, untuk mencari tempat pengisian daya. Ponsel-ponsel itu bukan untuk komunikasi mewah, melainkan sebagai satu-satunya penerang di tenda mereka, terutama untuk menenangkan kedua anaknya yang masih balita agar tidak takut gelap.
Proses mengisi daya ponsel yang sederhana ini telah berubah menjadi beban harian yang melelahkan dan menguras kantong. Abdel Karim harus berjalan sekitar 150-200 meter, dua kali sehari, dengan biaya 2 hingga 4 shekel per sesi. Ini berarti setidaknya 8 hingga 10 shekel atau sekitar Rp 40 ribu per hari hanya untuk mengisi daya ponsel. Dalam sebulan, angka ini bisa mencapai 270 hingga 300 shekel (sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta), sebuah nominal yang sangat besar mengingat kondisi ekonomi yang lumpuh dan ketiadaan penghasilan bagi sebagian besar pengungsi di Gaza.
Meskipun ada alternatif seperti lampu bertenaga surya, harganya melambung sepuluh kali lipat sejak perang, mencapai 300 shekel. Sistem energi surya yang lebih permanen jauh lebih mahal lagi, bahkan mencapai $420 per panel ditambah biaya baterai dan inverter. Parahnya, barang-barang ini sangat langka dan sulit masuk ke Gaza karena pembatasan ketat dari Israel sejak perang dimulai. Bagi Abdel Karim dan banyak warga Gaza lainnya yang kehilangan pekerjaan, harga-harga ini sama sekali tidak terjangkau.
Krisis listrik ini menjadi salah satu 'penderitaan senyap' yang jarang tersorot media, namun dampaknya begitu besar bagi kehidupan sehari-hari warga. Selain ancaman kelaparan dan fasilitas kesehatan yang lumpuh, ketiadaan listrik menghancurkan sisa-sisa normalitas dan menambah beban mental serta finansial bagi masyarakat yang sudah kehilangan segalanya.