Anggapan bahwa kematian Pemimpin Tertinggi Iran bisa menandai keruntuhan Republik Islam ternyata tidak sepenuhnya benar. Pejabat Amerika Serikat dan kelompok oposisi Iran memang ramai merayakan skenario ini, percaya bahwa berakhirnya era sang Pemimpin Tertinggi akan membuka lembaran baru bagi negara tersebut.
Namun, laporan dari Al Jazeera, melalui jurnalis Soraya Lennie, membantah narasi tersebut. Dijelaskan, wafatnya seorang Pemimpin Tertinggi dan matinya sistem Republik Islam bukanlah hal yang sama. Sistem politik Iran dirancang untuk punya ketahanan institusional yang kuat.
Ini artinya, kekuasaan tidak hanya bergantung pada satu individu. Mekanisme suksesi, seperti pemilihan pengganti Pemimpin Tertinggi oleh Dewan Ahli, telah diatur sedemikian rupa agar negara tetap stabil dan berlanjut, bahkan setelah transisi kepemimpinan di tingkat tertinggi. Jadi, bagi masyarakat, penting untuk memahami bahwa skenario "keruntuhan total" mungkin terlalu disederhanakan. Iran memiliki struktur pemerintahan yang kokoh, jauh melampaui figur seorang pemimpin saja.