Pemerintah Guinea-Bissau dilaporkan telah menghentikan uji coba vaksin hepatitis B (HBV) yang didanai oleh Amerika Serikat. Langkah ini diambil setelah proyek tersebut memicu kecaman global karena dianggap menahan vaksin penyelamat nyawa dari ribuan bayi.
Seorang peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut menyatakan bahwa uji coba gagal mendapatkan persetujuan pemerintah yang diperlukan. Ia menyebut penghentian ini sebagai "kemunduran signifikan" bagi ilmu pengetahuan Afrika. Sementara itu, pihak berwenang belum memberikan komentar resmi terkait hal ini.
Sebelumnya, kepolisian yudisial negara Afrika Barat itu pada pertengahan Oktober menggerebek fasilitas kelompok riset yang memimpin proyek di ibu kota, Bissau, dan menyita sejumlah batch vaksin. Otoritas setempat menyatakan penyelidikan masih berlanjut untuk menentukan apakah uji coba tersebut mematuhi standar keselamatan negara.
Uji coba ini dirancang untuk menilai efek vaksin HBV rekomendasi WHO pada dua kelompok bayi. Satu kelompok menerima vaksin saat lahir, sementara kelompok lain yang dipilih secara acak menerimanya enam minggu kemudian. Sebanyak 14.000 bayi dijadwalkan terlibat, dengan rencana pemantauan hasil kesehatan selama lima tahun.
Proyek ini mengantongi dana sebesar $1,6 juta dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Namun, pengumuman uji coba pada Desember tahun lalu memicu kemarahan luas karena penundaan pemberian vaksin pada salah satu kelompok bayi. Pemerintah Guinea-Bissau sempat menghentikan proyek ini pada Januari dan meluncurkan peninjauan.
Proyek Kesehatan Bandim yang berbasis di Bissau, bagian dari Universitas Southern Denmark, merupakan perencana uji coba ini. Kelompok ini diketuai oleh ilmuwan terkemuka Christine Stabell Benn dan Peter Aaby. Mereka dikenal memiliki teori kontroversial mengenai dampak vaksin, yang dibantah oleh rekan-rekan mereka di Denmark.