Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan empat kapal tanker minyak hancur setelah menghantam ranjau laut di Selat Hormuz. Dua kapal dilaporkan masih terbakar, sementara dua tanker lain disita karena mencoba melewati jalur selatan yang dilarang.
Insiden ini terjadi sehari setelah militer AS meluncurkan serangan ke Iran. IRGC juga mengklaim telah menembak jatuh drone MQ-9 di atas Selat Hormuz. Meski demikian, klaim pihak Iran ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh media internasional.
Di tengah konflik militer, dinamika politik AS ikut memanas. Hasil pemilu sela (midterm) di AS menunjukkan Partai Republik kehilangan suara, yang dianggap sebagai bentuk penolakan publik Amerika terhadap perang. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut hasil ini sebagai sinyal bahwa rakyat AS menolak perang. Ia memperingatkan Washington agar tidak mengkhianati kehendak rakyatnya sendiri.
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa hasil buruk partainya salah satunya dipicu oleh isu perang Iran dan naiknya harga bensin. Namun, Trump menegaskan tidak menyesal dan menyatakan konflik akan berakhir 'saat saya bilang berakhir'. Ia juga menegaskan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa tidak ada pihak yang akan diuntungkan jika perang dengan AS dan Israel kembali pecah. Ia menyatakan pemerintahannya terus berupaya menyelesaikan krisis melalui jalur diplomasi, meskipun pembicaraan damai masih menemui jalan buntu.