PERANG IRAN: JILAT LUDAH TRUMP, CUMA UNTUNGKAN ISRAEL? - Berita Dunia
← Kembali

PERANG IRAN: JILAT LUDAH TRUMP, CUMA UNTUNGKAN ISRAEL?

Foto Berita

Presiden Donald Trump pernah berjanji tidak akan mengulang kesalahan kebijakan luar negeri AS yang gemar mengintervensi negara lain di Timur Tengah. Ia bahkan mengkritik keras 'pembangun bangsa' yang justru menghancurkan. Namun, setahun berselang, muncul tudingan bahwa Trump kini justru berniat melancarkan perang besar ke Iran dengan retorika 'pembebasan,' sangat mirip dengan gaya intervensi yang dulu ia caci maki. Ada apa sebenarnya?

Banyak analis dan pengamat kini geleng-geleng kepala. Mereka menilai, rencana perang Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, jika benar terjadi, sama sekali tidak sejalan dengan ideologi politik maupun janji kampanye Trump. Sebelumnya, saat berkunjung ke Timur Tengah pada Mei, Trump dengan tegas menyatakan era baru kebijakan luar negeri AS tanpa campur tangan mengubah sistem pemerintahan atau 'membangun ulang' bangsa lain. Ia mengkritik pedas para pendahulunya yang dianggap merusak lebih banyak negara ketimbang membangunnya.

Ironisnya, kini Trump malah menggunakan narasi 'membawa kebebasan' ke Iran, persis seperti 'buku pedoman' kaum neokonservatif intervensi seperti George W. Bush, sosok yang selalu ia kritik. Sejumlah ahli Iran yang diwawancarai Al Jazeera bahkan blak-blakan menyebut, perang ini hanyalah 'perang pilihan' yang dilancarkan AS atas desakan Israel, dan hanya akan menguntungkan negara tersebut serta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 'Ini adalah perang Israel lainnya yang diluncurkan AS,' kata Negar Mortazavi, seorang peneliti senior di Center for International Policy.

Mortazavi menyoroti ironi bahwa Trump, yang pernah menjuluki dirinya 'presiden perdamaian,' kini malah terjebak dalam perang yang didorong oleh pihak lain. Netanyahu, yang diketahui juga mendukung invasi AS ke Irak tahun 2003, sudah lebih dari dua dekade gencar memperingatkan dunia akan bahaya Iran yang disebutnya di ambang memiliki senjata nuklir. Padahal, Iran sendiri membantah keras tuduhan itu, dan bahkan pejabat administrasi Trump mengakui tidak ada bukti Washington bahwa Tehran sedang mengembangkan program pengayaan uraniumnya untuk senjata.

Setelah AS melancarkan serangan udara terhadap fasilitas pengayaan utama Iran pada Juni tahun lalu – serangan yang menurut Trump 'melenyapkan' program nuklir Iran – Netanyahu mengubah fokus ancamannya. Kini ia gencar menggembar-gemborkan rudal balistik Iran. Netanyahu mengklaim rudal Iran bisa mengancam kota-kota di Amerika bahkan mampu mencapai Pesisir Timur AS. Klaim ini kemudian diulang oleh Trump dalam pidato kenegaraannya, meskipun Tehran menolak keras dan tidak ada bukti publik yang mendukungnya.

Jika skenario konflik ini berlanjut, dampaknya tentu tak main-main bagi masyarakat global. Kawasan Timur Tengah yang sudah bergejolak akan semakin tidak stabil, berpotensi memicu krisis kemanusiaan, lonjakan harga minyak dunia, dan ketidakpastian ekonomi yang meluas. Situasi ini juga menyoroti kompleksitas hubungan AS-Israel dan bagaimana lobi politik bisa memengaruhi arah kebijakan luar negeri sebuah negara adidaya. Pertanyaan besar yang muncul: apakah perang ini benar-benar untuk keamanan AS, ataukah ada agenda tersembunyi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu? Ini juga mengingatkan kita pada sejarah ketegangan panjang AS-Iran, termasuk penarikan AS dari kesepakatan nuklir JCPOA, yang makin memperkeruh suasana.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook