Partai Liberal (PL) yang merupakan partai politik dari Senator Flavio Bolsonaro akhirnya mengakui hasil pemilihan presiden (Pilpres) Brasil putaran kedua. Meski begitu, mereka tetap menyuarakan kekhawatiran terkait proses jalannya pemungutan suara. Sikap ini muncul setelah calon presiden dari kubu kanan, Jair Bolsonaro, bersikeras menolak kekalahannya dan berencana mengajukan gugatan pembatalan hasil pemilu.
Dalam pidato pasca-pemilu, Bolsonaro menyebut hasil yang memenangkan kandidat kiri, Luiz Inacio Lula da Silva, dengan selisih lebih dari 4,4 juta suara sebagai hal yang 'tidak bisa diterima'. Ia menyoroti keputusan Mahkamah Agung Brasil yang memperpanjang jam voting di beberapa daerah selama dua jam pada menit-menit terakhir. Bolsonaro menuding perpanjangan waktu tersebut sebagai upaya curang yang menguntungkan lawannya, dengan menyinggung kedekatan personal hakim agung Cristiano Zanin dengan Lula.
Namun, klaim Bolsonaro ini dibantah keras oleh para pakar. Analisis dari profesor Pedro Burgos menunjukkan bahwa perpanjangan waktu voting hanya menambah sekitar 35.000 suara. Jumlah itu sangat kecil, kurang dari 0,03 persen dari total suara nasional, dan sama sekali tidak cukup untuk menutupi selisih kekalahan Bolsonaro yang mencapai jutaan suara. Sementara itu, dari kancah internasional, mantan Presiden AS Donald Trump ikut berkomentar dengan menyebut adanya 'hal-hal aneh' dalam pemilu Brasil, meski ia menyatakan tidak memihak. Pernyataan Trump ini menuai kritik karena dianggap ikut menyebarkan informasi menyesatkan tentang integritas demokrasi di negara lain.