Dunia sedang menantikan momen langka di sela-sela KTT APEC di Shenzhen, China. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan menggelar pertemuan tiga arah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rencananya, pertemuan ini akan berlangsung pada 18-19 November mendatang.
Kabar ini bukan isapan jempol belaka. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengonfirmasi bahwa negaranya sedang berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Kremlin pun angkat bicara. Juru Bicara Dmitry Peskov menyebut koordinasi sedang berjalan dan berharap pertemuan ini bisa final dalam beberapa hari ke depan.
Trump sendiri menyatakan keterbukaannya. Fokus utama pertemuan ini adalah isu senjata nuklir. "Jika Presiden Xi ingin mengadakan pertemuan, saya akan melakukannya," ujar Trump seperti dikutip dari Al Jazeera.
Bagi Moskow, pertemuan ini adalah kemenangan citra besar. Analis politik Alexander Bratersky menilai ini sebagai jalan menuju "Yalta baru", mengacu pada konferensi 1945 yang membentuk tatanan pasca-perang. Kehadiran Putin di meja yang sama dengan Trump dan Xi akan menempatkannya sebagai "yang pertama di antara yang sederajat". Ini menjadi panggung sempurna untuk menunjukkan bahwa Rusia tetap menjadi pemain kunci dalam arsitektur keamanan Eropa, meski terlibat perang di Ukraina.
Namun, analis menilai China terlihat agak dingin. Beijing tampaknya lebih berhati-hati dan belum mau terlalu banyak berkomentar. Bagi Trump, pertemuan ini adalah kesempatan emas untuk memamerkan diri sebagai "pembuat kesepakatan yang tak tergantikan" di panggung dunia.
Pengamat internasional Inderjeet Parmar menyebut Trump menginginkan pertemuan dramatis yang bisa ia klaim sebagai hasil kerja kerasnya. Namun, hasil nyata dari pertemuan ini masih tanda tanya. Jika tidak ada kesepakatan konkret sebelum Natal, analis menyebutnya hanya akan menjadi sesi foto belaka.