Sebanyak 203 penumpang kapal pesiar asal Amerika Serikat terpaksa turun paksa dari kapal setelah operator membatalkan perjalanan keliling dunia yang sudah berjalan tiga tahun. Keputusan ini diambil karena lonjakan harga bahan bakar yang tidak terkendali membuat operasional kapal tidak lagi layak secara ekonomi.
Insiden ini menjadi pukulan telak bagi industri pariwisata maritim yang baru saja bangkit pasca-pandemi. Para penumpang yang telah membayar mahal untuk paket perjalanan jangka panjang kini harus menghadapi ketidakpastian, mulai dari proses refund yang rumit hingga perubahan rencana hidup yang drastis. Analisis singkat: kasus ini menunjukkan bahwa kenaikan harga energi global tidak hanya berdampak pada sektor transportasi darat dan udara, tetapi juga mengancam model bisnis wisata eksklusif yang bergantung pada stabilitas biaya operasional jangka panjang.