Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan peringatan serius akan potensi 'keruntuhan kemanusiaan' di Kuba. Hal ini dipicu langkah Amerika Serikat yang memblokir total pasokan minyak ke negara kepulauan Karibia itu, bahkan mengancam tarif bagi negara mana pun yang berani membantu. Kondisi ini membuat Kuba terperosok dalam krisis bahan bakar akut, memicu pemadaman listrik berkepanjangan hingga di ibu kota Havana, serta lonjakan harga pangan dan transportasi yang memberatkan masyarakat.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Kuba. Menurut Guterres, kondisi akan memburuk, bahkan 'runtuh', jika kebutuhan minyak Kuba tidak terpenuhi. PBB juga mengingatkan bahwa Majelis Umum PBB selama lebih dari tiga dekade secara konsisten menyerukan agar embargo perdagangan yang diberlakukan AS terhadap Kuba diakhiri. Guterres mendesak semua pihak untuk berdialog dan menghormati hukum internasional.
Permusuhan AS dan Kuba telah berlangsung sejak Revolusi Kuba tahun 1959 di bawah Fidel Castro, ketika pemerintah sosialis menasionalisasi bisnis milik AS. Washington membalasnya dengan sanksi ekonomi yang diperketat menjadi embargo penuh pada tahun 1962. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memperketat kebijakan, menuding Kuba sebagai 'ancaman luar biasa' dan berjanji akan membuat negara itu 'kelaparan' akan komoditas vital ini. Sebelumnya, Kuba sangat bergantung pada Venezuela untuk pasokan minyak, namun AS telah mengambil alih kendali minyak Venezuela setelah insiden penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.
Ancaman tarif AS juga menciptakan dilema bagi Meksiko, yang saat ini menjadi pemasok utama minyak Kuba (menyumbang sekitar 44% dari impor minyak Kuba, menurut laporan Financial Times). Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan negaranya menggunakan semua jalur diplomatik untuk memastikan pengiriman minyak mentah ke Kuba. Sheinbaum turut memperingatkan potensi krisis kemanusiaan di Kuba, namun ia juga tidak ingin negaranya 'berisiko' terkena tarif AS. Meksiko berencana mengirim bantuan kemanusiaan dan masih berupaya mencari kesepakatan dengan Washington terkait pengiriman minyak.
Menanggapi ancaman Trump, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pekan lalu mengecamnya sebagai upaya 'mencekik' ekonomi Kuba di bawah 'dalih palsu dan tak berdasar'. Kuba sendiri telah mendeklarasikan 'keadaan darurat internasional', menyebut langkah Trump sebagai 'ancaman yang tidak biasa dan luar biasa'.