Harapan untuk melihat misi Artemis 2 meluncur ke Bulan pada Maret mendatang harus pupus. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, mengumumkan penundaan penerbangan berawak pertama ke satelit Bumi dalam lebih dari 50 tahun ini. Penyebabnya, ditemukannya masalah pada aliran helium ke roket raksasa Space Launch System (SLS) yang vital untuk membersihkan mesin dan menekan tangki bahan bakar.
Kabar penundaan ini disampaikan langsung oleh Kepala NASA, Jared Isaacman, pada Sabtu (24/2). Ia mengakui adanya kekecewaan, namun menekankan bahwa tim NASA terus bekerja tanpa lelah untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan tertutupnya jendela peluncuran Maret, NASA kini menargetkan peluang berikutnya pada awal atau akhir April.
Penundaan ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi program Artemis. Misi tanpa awak Artemis 1 sendiri baru berhasil meluncur pada November 2022 setelah beberapa kali ditunda. Bahkan, awal Februari lalu, 'wet dress rehearsal' atau gladi bersih peluncuran Artemis 2 sempat terpotong karena kebocoran hidrogen cair, meskipun akhirnya berhasil diselesaikan baru-baru ini di Cape Canaveral, Florida.
Isaacman menjelaskan, roket SLS dan pesawat Orion akan ditarik kembali ke Gedung Perakitan Kendaraan di Kennedy Space Center, Florida, untuk penyelidikan lebih lanjut. Filter yang rusak, katup, atau pelat koneksi diduga menjadi penyebab terhambatnya aliran helium. Briefing lengkap mengenai masalah ini diharapkan akan menyusul dalam beberapa hari ke depan.
Artemis 2 sendiri merupakan langkah krusial sebelum misi pendaratan berawak Artemis 3 yang dijadwalkan pada 2028. Misi 10 hari ini, yang akan membawa tiga astronaut AS (Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch) dan satu astronaut Kanada (Jeremy Hansen) mengelilingi Bulan dan kembali, bertujuan untuk penemuan ilmiah, manfaat ekonomi, dan membangun fondasi bagi misi berawak pertama ke Mars.
Di balik penundaan ini, tersimpan pula konteks persaingan sengit antara AS dan Tiongkok di arena luar angkasa. Tiongkok sendiri tengah gencar dengan upaya eksplorasi bulannya, menargetkan misi berawak paling lambat pada tahun 2030. Misi tanpa awak Chang'e 7 mereka diharapkan meluncur pada 2026 untuk menjelajahi kutub selatan Bulan, sementara uji coba pesawat luar angkasa berawak Mengzhou juga akan dilakukan tahun ini. NASA, yang sempat mengejutkan dengan mempercepat Artemis 2 pada Februari, kini harus kembali menghadapi realitas teknis yang tak bisa dihindari dalam perlombaan menuju Bulan.