Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali jadi sorotan setelah pidatonya mengenai 'perang di Iran' yang dinanti-nantikan publik. Sayangnya, harapan untuk mendengar pengumuman besar atau terobosan strategi baru pupus sudah. Dalam pidato yang berlangsung kurang dari 20 menit pada Rabu malam waktu setempat, Trump justru hanya mengulang-ulang pernyataan lamanya yang telah ia gaungkan berpekan-pekan.
Banyak pengamat dan media sebelumnya memprediksi Trump bakal mengumumkan diakhirinya konflik atau malah eskalasi yang lebih serius, seperti operasi darat di Iran. Namun, publik hanya disuguhi retorika yang sama: perang ini perlu, sudah dimenangkan, harus berlanjut, dan akan segera berakhir. Ironisnya, Trump tidak merinci bagaimana perang ini akan benar-benar usai atau kesepakatan macam apa yang ia inginkan dari Iran. "Kita akan menuntaskan pekerjaan ini. Kita sudah sangat dekat," ujar Trump, mengulang janji yang sama sejak Maret lalu.
Sina Azodi, seorang profesor politik Timur Tengah dari George Washington University, mengaku tak paham apa maksud pidato itu. "Saya tidak menangkap poin apa pun, ini hanya pengulangan dari semua yang pernah dia katakan," katanya kepada Al Jazeera. Penilaian senada juga dilontarkan Trita Parsi dari Quincy Institute, yang menyebut pidato itu tak lebih dari rangkuman cuitan Trump selama sebulan terakhir. "Justru karena tidak ada hal baru, ini menunjukkan bahwa ia tidak punya rencana," tegas Parsi.
Meskipun tanpa pengumuman signifikan, pidato ini disinyalir sebagai upaya Trump untuk meyakinkan rakyat AS yang sudah muak dengan konflik asing berkepanjangan seperti di Irak dan Afghanistan. Alasan utama Trump adalah Iran akan mengakuisisi senjata nuklir dan menggunakannya, sehingga AS dan Israel harus bertindak. Padahal, Trump sendiri pernah sesumbar bahwa serangan AS pada Juni 2025 telah melenyapkan program nuklir Iran. Bahkan, sebelum 'perang' tahun lalu, kepala intelijen Trump, Tulsi Gabbard, sudah mengatakan bahwa "Iran tidak membangun senjata nuklir." Iran sendiri berulang kali menyangkal ambisi nuklir, sementara Israel justru diyakini punya gudang senjata nuklir tak terdeklarasi.
Selain isu nuklir, Trump juga menyiratkan bahwa konflik ini adalah soal balas dendam atas puluhan tahun rivalitas Washington dan Teheran. Rejim di Iran dituding terus meneriakkan "Matilah Amerika, Matilah Israel" selama 47 tahun, serta mendalangi serangan terhadap tentara AS di Beirut dan pembantaian ratusan pasukan lainnya di berbagai lokasi. Retorika berulang tanpa detail jelas ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan ketegangan di kawasan, sekaligus menunjukkan potensi kegamangan strategi AS di mata dunia.