Konflik bersenjata di Sudan memaksa warga beralih ke penambangan emas tradisional untuk bertahan hidup. Kisah pilu datang dari Altayeb Alhadi, remaja 16 tahun yang tewas dalam serangan udara di lokasi tambang emas Jabal Al-Aigdat, kawasan Laut Merah, pada 10 Oktober lalu. Serangan yang diduga dilakukan militer Mesir itu menewaskan sedikitnya 72 penambang.
Altayeb menjadi tulang punggung keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal saat ia berusia enam tahun. Ia meninggalkan kampung halamannya di Desa Galli, Negara Bagian Sungai Putih, dan menempuh ratusan kilometer ke utara demi mencari nafkah untuk empat adiknya. Selama dua tahun ia bekerja serabutan sebelum akhirnya terjun ke tambang emas bawah tanah.
Rekan sejawatnya menuturkan, Altayeb bekerja bersama sekitar 15 pemuda dan anak-anak lain menggunakan alat sederhana. Mereka menggali siang-malam, lalu membawa material ke penggilingan terdekat. Pendapatan mereka tidak menentu, bergantung pada jumlah emas yang ditemukan, namun bisa mencapai 100 dolar AS pada hari produktif.
Insiden ini menyoroti minimnya perlindungan bagi pekerja muda di sektor tambang rakyat Sudan. Di tengah perang yang menghancurkan mata pencaharian, banyak remaja memilih risiko maut di lubang tambang daripada menganggur. Keluarga Altayeb mengaku sempat memperingatkan bahaya pekerjaan tersebut, namun tuntutan ekonomi membuat sang remaja tetap nekat. Sepuluh hari sebelum tewas, Altayeb sempat berjanji pulang ke rumah.