Presiden El Salvador Nayib Bukele membantah keras laporan yang menyebutkan empat jenazah yang diserahkan kepada pasukan khusus negaranya di Haiti adalah warganya. Bukele mengungkapkan bahwa pihaknya menerima kantong jenazah dari sebuah LSM, namun isinya justru mencurigakan. Alih-alih jasad empat teknisi udara El Salvador, ia mendapati salah satu jenazah berukuran jauh lebih tinggi, memakai seragam militer negara lain, hingga adanya kartu identitas Tentara Chad, Afrika.
Insiden ini bermula saat empat teknisi udara yang tergabung dalam Pasukan Penindas Geng (GSF) PBB hilang setelah disergap kelompok bersenjata di area Croix-des-Bouquets. Mereka diketahui sedang dalam misi kemanusiaan untuk evakuasi medis, bukan untuk berperang. Bukele pun mengerahkan sekitar 450 personel militer untuk mencari keberadaan mereka.
Penolakan Bukele ini sekaligus membantah laporan The New York Times yang menyebut jenazah ditemukan dalam kondisi terbakar di pinggiran Port-au-Prince. Analisis singkatnya, situasi keamanan di Haiti memang sedang kacau. Data PBB mencatat lebih dari 5.700 orang tewas atau luka-luka akibat kekerasan geng sepanjang tahun ini. Kekosongan politik pasca-pembunuhan presiden pada 2021 membuat pasukan multinasional kesulitan menembus wilayah kekuasaan geng, sehingga insiden salah identifikasi jenazah ini menambah rumit misi internasional di sana.