Nairobi, Kenya — Kenya mencatat kematian pertamanya akibat virus Ebola varian Bundibugyo (BDBV), sebuah strain mematikan yang belum memiliki vaksin. Pasien tersebut sebelumnya tinggal di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan sempat dirawat di sana sebelum melakukan perjalanan darat ke Uganda, lalu terbang ke Nairobi.
Kematian ini memicu kekhawatiran serius. Pasalnya, Uganda baru saja dinyatakan bebas Ebola pada Juli lalu. Fakta bahwa pasien bisa melintasi perbatasan dan naik pesawat komersial menimbulkan pertanyaan besar tentang ketatnya prosedur skrining di bandara dan pintu masuk darat.
Wabah di DRC sendiri telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dari 8.300 kasus yang dilaporkan. Profesor Wolfgang Preiser dari Stellenbosch University menilai situasi ini di luar kendali banyak sistem kesehatan. "Kecepatan penyebaran dan jumlah kasusnya sangat membebani," ujarnya kepada Al Jazeera.
Varian Bundibugyo menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh inang yang terinfeksi atau hewan liar, termasuk konsumsi daging yang terkontaminasi. Gejalanya mirip flu, namun dapat berkembang menjadi pendarahan internal dan kegagalan organ. Saat ini, Pemerintah Kenya tengah memperketat pengawasan di titik-titik masuk berisiko tinggi untuk mencegah penyebaran lebih luas.