Mantan komandan CENTCOM AS, Joseph Votel, baru-baru ini bikin heboh dengan pengakuannya. Menurut Votel, Amerika Serikat dan Israel disebut-sebut telah berhasil "menyingkirkan" sebagian besar kemampuan rudal balistik Iran. Ini jelas bukan kabar main-main, mengingat rudal balistik adalah tulang punggung pertahanan dan serangan jarak jauh Teheran.
Pernyataan Votel ini sontak menimbulkan pertanyaan besar: seberapa parah sebenarnya pukulan yang diterima Iran? Jika benar, ini berarti kekuatan militer Iran, terutama dalam hal daya gentar strategis dan kemampuan menyerang target jauh, bisa dibilang telah tumpul secara signifikan. Hilangnya sebagian besar rudal balistik otomatis mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, menempatkan Iran dalam posisi yang lebih rentan terhadap potensi ancaman.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa Iran bukan tanpa senjata sepenuhnya. Mereka masih punya armada drone canggih, rudal jarak pendek yang mematikan, kemampuan siber yang patut diperhitungkan, serta jaringan milisi proksi yang loyal di berbagai negara seperti Yaman, Irak, Suriah, dan Lebanon. Kekuatan-kekuatan ini tetap menjadi kartu truf Iran untuk membalas atau mengganggu stabilitas regional, meskipun tidak memiliki daya jangkau global layaknya rudal balistik.
Pengungkapan ini datang di tengah memanasnya berbagai konflik di kawasan, mulai dari perang di Gaza, ketegangan di Laut Merah yang melibatkan Houthi, hingga serangan-serangan sporadis di Irak dan Suriah. Melemahnya kapabilitas rudal balistik Iran bisa diartikan sebagai upaya kolaborasi AS-Israel untuk membatasi ruang gerak Teheran, mengurangi potensi eskalasi konflik yang lebih luas, atau bahkan sebagai pesan tegas bahwa setiap ancaman serius akan dihadapi dengan respons militer yang terkoordinasi. Dengan demikian, meski Votel tidak merinci bagaimana operasi "penyingkiran" itu dilakukan, dampak pernyataannya jelas akan bergema di seluruh panggung geopolitik Timur Tengah.