Pemilihan tengah periode (midterm) Amerika Serikat tahun 2026 diprediksi bakal menjadi yang paling mahal dalam sejarah negara itu. Bayangkan saja, belanja iklan politik saja diperkirakan menembus angka $11,6 miliar atau sekitar Rp180 triliunan. Angka ini melampaui rekor sebelumnya dan menunjukkan bagaimana uang benar-benar menguasai panggung demokrasi Negeri Paman Sam.
Fenomena ini tidak lepas dari peran besar Super PACsākomite aksi politik yang boleh menghimpun dana tanpa batasāserta praktik dark money alias donasi gelap yang sulit dilacak asalnya. Para miliarder dan donor kaya raya kini memegang kendali besar dalam menentukan siapa yang layak maju dan siapa yang akhirnya menang. Akibatnya, suara rakyat biasa sering kali kalah oleh kekuatan modal.
Dalam diskusi yang dihelat Al Jazeera, pakar hukum Harvard Lawrence Lessig dan Bradley Smith dari Capital University membahas akar masalah ini. Keduanya sepakat bahwa sistem pendanaan kampanye yang ada sekarang membuat pemilih dari kedua kubuābaik Republik maupun Demokratāmerasa uang telah memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam pemerintahan. Pertanyaannya kini: mampukah sistem ini dirombak, atau demokrasi AS akan terus menjadi barang dagangan bagi segelintir orang kaya?