Beirut, Lebanon ā Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon selatan. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya 17 orang dilaporkan tewas akibat rentetan bom yang menghantam sejumlah kota dan desa, termasuk Tayr Debba dan Sidon. Otoritas Lebanon menyebut korban jiwa terus berjatuhan di tengah eskalasi konflik yang kian memanas.
Menurut laporan National News Agency (NNA) Lebanon, sembilan orang tewas ketika jet dan drone Israel melancarkan setidaknya empat serangan di Tayr Debba, wilayah timur kota pelabuhan Tyre. Tak lama berselang, dua serangan lain di Desa Deir Qanoun el-Nahr menewaskan tiga orang, sementara dua lainnya tewas di Seddiqin, tenggara Tyre.
Puncaknya, serangan drone Israel menghantam sebuah mobil di pusat Kota Sidonākota pesisir antara Tyre dan Beirut. Ledakan terdengar hingga ke pusat kota, dan dua orang yang berada di dalam kendaraan tersebut tewas seketika. Saksi mata dari kantor berita AFP melihat tim penyelamat mengevakuasi jasad korban dari mobil yang terbakar.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke pasukan Israel di selatan Lebanon, tepatnya di area Bayada dan Yohmor. Mereka menggunakan roket dan tembakan artileri untuk menargetkan konsentrasi tentara dan kendaraan militer Israel.
Yang menarik, serangan ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi. Iran sebelumnya memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan kampanye militernya, namun peringatan itu ditolak mentah-mentah. Bahkan, Iran mendesak agar setiap kesepakatan damai dengan AS dan Israel juga mencakup gencatan senjata di Lebanonāsebuah syarat yang mempersulit perundingan dengan Presiden AS Donald Trump.
Dampak dan Analisis: Situasi ini semakin mengkhawatirkan. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, telah mengirim tim penyelidik ke Lebanon untuk mengumpulkan bukti dugaan pelanggaran HAM sejak Maret lalu. Temuan ini bisa berujung pada tuntutan kejahatan perang. Namun, belum jelas apakah Israel akan bekerja sama. Eskalasi ini tidak hanya memperluas medan perang, tapi juga berpotensi memicu krisis kemanusiaan baru di Lebanon yang ekonominya sudah kolaps.