Ketegangan memuncak di London menyusul insiden ricuh di luar Penjara Wormwood Scrubs pada Sabtu malam. Sebanyak 86 aktivis pro-Palestina ditangkap polisi setelah mereka berunjuk rasa mendukung Umer Khalid, seorang aktivis muda yang kini menjalani mogok makan selama lebih dari dua minggu di dalam penjara tersebut.
Menurut Kepolisian Metropolitan London, para pengunjuk rasa menolak bubar saat diperintahkan. Mereka dituding menghalangi staf penjara, mengancam petugas, dan beberapa di antaranya bahkan sempat masuk ke area pintu masuk staf gedung penjara. Rekaman video yang diverifikasi Al Jazeera menunjukkan petugas kepolisian mendorong dan memborgol sejumlah demonstran. Polisi juga menggunakan taktik kontroversial yang dikenal sebagai "kettling", yaitu mengepung dan mengurung kelompok demonstran untuk mengendalikan situasi, yang sering kali menuai kritik tajam.
Umer Khalid (22), aktivis pro-Palestina yang menjadi sorotan, memulai mogok makannya sejak November dan menghentikan asupan cairan sejak Sabtu lalu, bertepatan dengan aksi protes. Ibunya, Shabana Khalid, mengungkapkan kekhawatirannya tentang kondisi Umer yang mulai kelelahan, meski merasa tenang karena putranya dipantau ketat secara medis. Umer ditahan atas tuduhan membobol pangkalan udara terbesar Inggris, Brize Norton, dan menyemprotkan cat merah ke pesawat pada Juni lalu, sebagai simbol "pertumpahan darah Palestina". Ia telah menyatakan tidak bersalah.
Kasus ini makin panas lantaran Pemerintah Inggris sebelumnya telah melarang kelompok Palestine Action, yang dikaitkan dengan Umer Khalid, berdasarkan undang-undang "anti-terorisme". Keputusan ini menuai kritik tajam dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebutnya "tidak beralasan", dan telah memicu serangkaian protes dengan ratusan penangkapan dalam beberapa bulan terakhir. Mogok makan Umer Khalid ini menambah panjang daftar aktivis yang melakukan aksi serupa sebagai bentuk perlawanan, meskipun kini ia menjadi satu-satunya yang masih melanjutkan perjuangannya tanpa makanan.
Insiden di Wormwood Scrubs ini bukan sekadar penangkapan biasa. Ini mencerminkan eskalasi ketegangan antara aktivis pro-Palestina dan otoritas Inggris. Penggunaan taktik kepolisian yang tegas dan kontroversial seperti "kettling" memicu perdebatan mengenai batas-batas kebebasan berekspresi dan hak untuk berunjuk rasa di tengah kebijakan pemerintah yang kian ketat. Situasi ini menunjukkan bahwa isu Palestina, beserta dampaknya terhadap kebebasan sipil, masih menjadi bara panas yang terus menyala di jantung kota London.