Meksiko kini di ambang ketidakpastian. Kematian salah satu gembong narkoba paling dicari, Nemesio “El Mencho” Oseguera, dalam operasi militer, justru memicu gelombang kekerasan dan serangan balasan di berbagai wilayah. Meski Presiden Claudia Sheinbaum mengklaim kondisi sudah kembali normal, ketegangan masih menyelimuti negeri itu.
Pemerintah Meksiko bergerak cepat, mengerahkan sekitar 10.000 tentara di 20 dari 32 negara bagian. Sebanyak 2.000 pasukan bahkan fokus di Jalisco, basis utama kartel pimpinan El Mencho, yakni Jalisco New Generation Cartel (CJNG). Insiden ini, yang menewaskan El Mencho di dekat Guadalajara, dilaporkan juga merenggut nyawa sedikitnya 74 orang, termasuk 25 petugas Garda Nasional. Angka ini mencerminkan betapa berbahayanya operasi penumpasan gembong narkoba berusia 59 tahun ini.
Pasca-kematian El Mencho, yang disebut-sebut sebagai penerus kebrutalan Joaquin “El Chapo” Guzman, anggota CJNG segera melancarkan aksi balasan. Mereka membakar mobil, memblokir jalan, serta menyerang bank, SPBU, dan toko di sejumlah negara bagian. Meski transportasi umum mulai beroperasi, suasana masih sepi dan penuh kecemasan.
Menariknya, di tengah klaim Presiden Sheinbaum yang menyebut Meksiko sudah tenang tanpa barikade, laporan jurnalis Al Jazeera dari Mexico City justru menggambarkan suasana sunyi mencekam. Banyak bisnis tutup, dan sisa-sisa blokade jalan yang dibuat kartel baru saja disingkirkan.
Operasi penangkapan El Mencho ini mendapat dukungan intelijen dari Amerika Serikat. Namun, Presiden Sheinbaum menegaskan, seluruh perencanaan dan pelaksanaan operasi sepenuhnya ditangani oleh pasukan federal Meksiko tanpa keterlibatan langsung tentara AS.
Para ahli memperingatkan, kematian El Mencho bisa jadi awal dari masalah baru. Absennya suksesi langsung di tubuh CJNG berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan. Hal ini bisa memicu perebutan pengaruh yang brutal di antara faksi-faksi di dalam kartel, atau bahkan dengan kartel lain, sehingga memperparah kondisi keamanan Meksiko ke depan.