Jakarta, Media Online – Proses negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump dikabarkan meminta sejumlah perubahan atau revisi pada draf kesepakatan yang sebelumnya sudah hampir final. Permintaan ini muncul di tengah tekanan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Menurut laporan CBS News yang dikutip oleh BBC, poin revisi yang diminta Trump berfokus pada dua isu krusial: status Selat Hormuz dan penghapusan uranium yang sangat diperkaya. Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang menjadi 'nyawa' perdagangan minyak dunia, sementara uranium tingkat tinggi menjadi kekhawatiran utama soal program nuklir Iran.
Di sisi lain, sikap tegas datang dari Teheran. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun kecuali hak-hak Iran terjamin sepenuhnya. Hal ini menambah kerumitan negosiasi karena kedua pihak sama-sama keras pada prinsip masing-masing.
Analis menilai bahwa permintaan revisi ini menunjukkan adanya kebuntuan di meja perundingan. Jika tidak ada titik temu, bukan tidak mungkin konflik militer akan kembali memanas. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan secara terbuka menyatakan bahwa serangan bisa dilanjutkan jika kesepakatan tidak sesuai harapan Trump. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut semua spekulasi yang beredar saat ini belum bisa dijadikan pegangan hingga ada kesimpulan yang jelas.